Belajar tentang Perempuan dari Teater

Alexander June 23, 2012 1
Belajar tentang Perempuan dari Teater

MEDAN – Perbuatan asusila kepada perempuan khususnya di bawah umur kerap terjadi. Selama ini, perempuan dianggap sosok lemah, sehingga terciptalah stigma perbuatan asusila pada perempuan menjadi hal biasa dan bahkan wajar karena kelemahan tersebut.

Padahal, setelah menjadi korban tindak asusila, perempuan lah yang menanggung semua akibatnya. Malah, mereka kerap dituding sebagai aib di keluarganya bahkan pada masyarakat.

Berawal dari permasalahan tersebut, Teater O Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU mencoba membuat sebuah pementasan monolog. Hal ini disampaikan langsung oleh aktris sekaligus pembuat naskah “Anak Cucu Ayah”, Tri Utari Ismayuni Nasution usai pementasan, Kamis (21/6/2012) malam.

Ia menyampaikan, naskah tersebut sengaja dipentaskan karena fenomena perbuatan asusila kepada perempuan khususnya dilakukan orang terdekat, yakni orangtuanya sendiri masih terjadi. Untuk itu, Pameran Monolog ini mengisahkan perempuan usia belasan yang mendapat tindakan asusila perkosaan dari orang tua kandungnya sendiri yang mengakibatkan kehamilan.

“Saya sengaja mengangkat tema ini, karena fenomena ini memang belum hilang di Indonesia. Hingga kini, banyak kejadian yang menjadikan perempuan sebagai korban dan berakhir dengan kematian. Sehingga disini, di akhir cerita kita berikan sebuah pemaknaan bahwa bunuh diri atau membunuh anak dalam kandungan tidak harus dilakukan, karena anak tersebut tidak bersalah. Kalau sempat terjadi akan menjadi penderitaan dan penyesalan yang lebih mendalam, serta mengajarkan kepada para lelaki khususnya apa itu wanita,” ujarnya.

Sutradara “Anak Cucu Ayah”, Mukhlis Win Ariyoga menyampaikan cerita ini diambil dari kisah nyata atau realita kehidupan yang sesungguhnya yang diambil dari sebuah media. “Cerita ini menggambarkan seorang ayah yang sangat rindu istrinya, dan ketika anaknya dalam keadaan tidak sadar maka dia menuangkan kerinduannya tersebut kepada anaknya. Dan saat itu anaknya tidak sadar. Setelah ayahnya meninggal sudah 3 bulan, maka perutnya membesar. Ia bingung siapa yang melakukan, dan ketika dicari tahu, ternyata ayahnya yang memang sudah tidak ada,” jelasnya lagi.

Ditambahkannya, di akhir cerita ada adegan pengguguran sang janin, tapi setelah melihat darah ia sangat menyesal. “Jadi intinya jangan pernah mencoba membunuh anak yang tidak bersalah, karena masalah bukan selesai tapi kesedihan akan terus melanda. Dan kita menegaskan bahwa perempuan sangat terpukul seperti itu lah, bila dia menjadi korban akan tindakan asusila,” paparnya lagi.

Pembantu Rektor 3 USU Drs. Raja Bongsu Hutagalung, SE, MSi yang menyaksikan pementasan monolog mengapresiasi kreativitas mahasiswa. “Saya ingin membuktikan bahwa mahasiswa ini benar-benar melakukan sesuatu yang bermakna daripada sekedar membuat komunitas yang tidak memperlihatkan apa-apa,” ungkap Raja.

Ia berjanji mendukung penuh kegiatan yang dilakukan Teater O. “Aktivitas seperti ini bisa menunjukkan keberadaan mahasiswa kreatif jika dikemas sesuai keinginan masyarakat saat ini,” ujarnya. (Puput Julianti Damanik)

One Comment »

  1. dinda June 24, 2012 at 12:39 pm - Reply

    thanks for share
    join juga yuk di http://www.cybercityindonesia.com
    jejaring sosialnya indonesia, milik anak bangsa

    dinda
    http://cybercityindonesia.com/profile/44838

Leave A Response »

Switch to our mobile site