Ekspor Makanan Olahan dan Kosmetik Sumut Terbentur Syarat Halal

Alexander July 29, 2012 0
Ekspor Makanan Olahan dan Kosmetik Sumut Terbentur Syarat Halal

MEDAN – Ekspor produk makanan olahan lokal dan kosmetik di Sumatera Utara (Sumut) masih terbentur syarat kehalalan. Makanya produk tersebut belum berkembang di pasaran internasional. Apalagi masih banyak pengusaha Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tidak mengetahui tata cara dan persyaratan ekspor yang berlaku.

“Padahal produk makanan olahan kita diminati pasar internasional. Tapi persyaratan dari negera tujuan sering tidak bisa terpenuhi terutama kehalalan produk tersebut,” ujar Ketua UKM Center Sumatera Utara (Sumut), Deni Faisal Mirza, Jumat (27/7/2012).

Menurut Deni, ekspor komoditas makanan olahan yang diproduksi UKM Sumut berpotensi untuk berkembang di pasaran internasional. Disebabkan banyak pelaku UKM yang kurang informasi syarat halal yang harus dibuat, membuat produk lokal kalah dan bahkan tidak bisa berkembang.

“Makanan dari Sumut sangat diminati pasar internasional, seperti manisan halua. Namun karena tidak memenuhi syarat halal menyebabkan UKM kesulitan untuk memasarkannya di pasar internasional,” katanya.

Di Sumut, ungkapnya, produk UKM yang kini berkembang di pasar ekspor adalah produk kerajinan dan furnitur. Jumlah produk yang diekspor pun masih kecil, belum banyak memberikan kontribusi dalam meningkatkan volume ekspor Sumut.

“Volume ekspor yang dilakukan selama ini pun rata-rata Rp 1 miliar – Rp 2 miliar per tahun,” kata Deni.

Kurangnya kegiatan ekspor UKM Sumut ini, menurutnya, terjadi karena kegiatan ekspor baru terjadi dalam dua tahun belakangan. Itupun karena ada event-event di luar negeri. Karena itu, volume ekspor produk UKM masih temporer dan belum berkelanjutan.

Selama ini, diakuinya, para pelaku UKM yang mengikuti kegiatan promosi pameran ke luar negeri saja yang melakukan ekspor. Sehingga, jika ada event dan pemesanan, saat itulah pengusaha UKM membuat produk dan mengekspornya.

Kondisi ini turut didukung oleh kurang pahamnya pelaku UKM cara melakukan ekspor. Misalnya tentang peti kemas, atau syarat halal dalam makanan dan syarat lainnya. Meskipun ada pelatihan yang diberikan pemerintah, imbuhnya, peserta pelatihan asal pilih saja.

Bahkan usaha mikro pun diikutkan sehingga pelatihan tersebut tidak bermanfaat. Selain itu, jika ingin melakukan ekspor, sumber daya manusia dan financial pelaku UKM pun harus kuat. Padahal, dukungan dari lembaga keuangan dan pemerintah juga belum maksimal.

Sekretaris Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Sumut, Sofyan Subang mengatakan, beberapa tahun belakangan ini produk makanan olahan dari Sumut sudah mulai dikenal pasar internasional. Produk makanan dan minuman olahan seperti keripik ubi, markisa, dodol durian dan kopi dari Sumut, sudah mulai tampak dipasarkan di luar negeri.

“Produk-produk ini dipasarkan setelah mengikuti pameran di luar negeri,” ujar Subang melalui telepon selulernya.

Sofyan mengatakan, kendala sertifikat halal untuk pemasaran produk makanan olahan Sumut sebenarnya hanya terjadi ke negara muslim. Sedangkan untuk pemasaran di negara non muslim terbentur oleh persyarat kesehatan. Jadi jika produk makanan olahan ingin diekspor harus mengurus syarat halal dan kesehatan. (Muhammad Isya)

Leave A Response »

Switch to our mobile site