MEDAN – Kondisi perekonomian Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang hingga kini masih melambat, ternyata berimbas pada nilai ekspor Sumatera Utara (Sumut) terutama pada komoditas dari sektor pertanian dan perkebunan
Data yang dicatatkan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, pada semester I-2012 nilai ekspor komoditas pertanian Sumut mencapai US$ 1,545 miliar atau terpangkas 26,75% dibandingkan periode yang sama tahun 2011 senilai US$ 2,11 miliar.
“Penurunan ini disebabkan anjloknya nilai ekspor komoditas karet dan barang dari karet sebesar 31,46% dari US$ 1,889 juta menjadi US$ 1,294 juta. Selain itu, CPO juga turun dari US$ 2,121 juta menjadi US$ 1,983 juta,” ujar Kepala BPS Sumut, Drs Suharno MSc, di kantornya Jalan Asrama Helvetia Medan, Jumat (3/8/2012).
Padahal, diungkapnya, kedua komoditas ini memberikan kontribusi besar untuk ekspor Sumut. Tercatat, karet dan barang dari karet memberikan andil 25,13% dan CPO sebesar 38,49%. Penurunan ini tentu sangat disayangkan apalagi harga ekspor-nya juga turun.
Dia menyebutkan, dari total ekspor Sumut yang mencapai US$ 5,153 miliar, sektor pertanian menyumbang kontribusi 29,99%. Meski andilnya lebih kecil dari kontribusi sektor industri sebesar 69,88% atau senilai US$ 3,601 miliar. Namun komoditi pertanian diharapkan bisa mendongkrak ekspor Sumut yang sedang lesu.
Menurut Suharno, penurunan ekspor Sumut memang belum menimbulkan gejolak yang berarti. Namun, sudah timbul kekhawatiran jika kondisi di Eropa dan AS tidak mambaik, ekspor akan terus merosot.
Karena itu, sebutnya, BPS melakukan survei tanggal 1-10 Agustus 2012 ini dengan 71 perusahaan di Sumut. Hasil survei ini akan disampaikan ke Wakil Presiden RI Boediono dan langsung didiskusikan.
Dijelaskan Suharno, hasil ini adalah peringatan dini hingga diketahui bagaimana menghadapi pasar Uni Eropa dan AS serta pasar baru. Sejumlah item yang diteliti dalam survei di antaranya persepsi, kualitatif dan kuantitatif.
Survei ini memang tidak dilakukan secara detail, namun diharapkan dapat memberikan gambaran apa yang paling dibutuhkan supaya bisa kembali menggairahkan ekspor Sumut. Komoditi utama yang diteliti adalah CPO dan karet. Sebab, kedua komoditi yang menunjukkan penurunan setiap bulannya.
“Nantinya, akan ada safe khusus untuk komoditas ekspor. Makanya survei ini dilakukan secara nasional dan hasilnya bisa menjadi patokan ekspor nantinya,” katanya.
Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia, BP Rambe melalui Sekretaris, Sofyan Subang, masih mengaku optimis ekspor akan bisa bergairah. Subang mengajak semua pihak untuk bersama-sama memikirkan solusinya. (Muhammad Isya)











