I Gede Pandu Wirawan Usung Isu Pluralisme

Alexander September 5, 2013 0
I Gede Pandu Wirawan Usung Isu Pluralisme

NEW YORK – I Gede Pandu Wirawan, pemuda Indonesia yang merupakan alumni Universitas Nasional dan kini bekerja sebagai Program Koordinator di Global Peace Festival Indonesia Foundation mewakili Indonesia dalam kegiatan United Nations Alliance of Civilizations (UNAOC) – English First (EF) Summer School di New York.

Mulai 24 hingga 31 Agustus 2013 para peserta melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama antar pemuda lintas negara, budaya, dan agama. Pandu merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia di acara yang diikuti oleh seratus pemuda dengan berbagai inisiatif sosial dari berbagai belahan dunia.

Selama seminggu di Amerika Serikat, peserta mendapat kesempatan untuk belajar tentang global citizenship, negosiasi, social entrepreneurship, dan social media and massive social change. Selain itu, mereka juga mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Kantor Pusat Persatuan Bangsa-Bangsa di New York dan melihat langsung kegiatan komunitas masyarakat yang ada di New York. Pada kegiatan ini, para peserta mendapat banyak kesempatan untuk berdiskusi dan membagikan pengalaman mereka dalam menjalankan kegiatan sosial, sehingga seluruh peserta bisa saling berbagi ilmu satu sama lain.

I-Gede-Pandu-Wirawan-(Ketiga-dari-Kiri)-Bersama-Peserta-UNAOC---EF-Summer-School-LainnyaPandu menuturkan, selama mengikuti kegiatan UNAOC Summer Camp di New York, isu Interfaith dan Pluralisme tetap menjadi fokus ketertarikan utama yang ia suarakan kepada pemuda seluruh dunia. “Selama di Amerika, saya banyak berbagi cerita tentang permasalahan yang dihadapi Indonesia saat ini. Khususnya tentang isu keberagaman di Indonesia yang belum sepenuhnya bisa dinikmati oleh kaum minoritas, serta berbagai kasus kekerasan mengatasnamakan agama yang masih terjadi di Indonesia. Selain itu, saya juga membagikan cerita mengenai berbagai aktifitas yang saya lakukan seperti Interfaith Youth Forum, Cinta Indonesia dan International Multifaith Youth Assembly sebagai bagian dari upaya saya mencari solusi dari permasalahan tersebut.”

“Saya sangat tertarik dengan isu hak asasi manusia khususnya dalam hal kebebasan beribadah dan beragama, dan salah satu pembahasan dan fokus dalam Summer School ini adalah isu tersebut, itulah alasan mengapa saya tertarik mengikuti acara ini. Selama di Amerika, saya sangat terkesan dengan peserta yang berasal dari Jerman. Program yang dia jalankan adalah I AM YOU, pesan yang dia sebarkan adalah cintai terhadap semua manusia serta perlakukan mereka seperti bagaimana kamu ingin diperlakukan,” tambah Pandu.

Pihak penyelenggara secara resmi menyatakan, terdapat sedikitnya lebih dari 100.000 aplikasi diterima untuk mengikuti UNAOC-EF Summer Camp. Tetapi, hanya 100 orang peserta dari lebih 90 negara yang terpilih untuk berangkat ke New York. Jumlah peserta yang terbatas, terkait dengan fakta bahwa panitia kegiatan UNAOC-EF Summer Camp membayar seluruh transportasi dan akomodasi para peserta kegiatan ini.

I Gede Pandu Wirawan Usung Isu Pluralisme

NEW YORK – I Gede Pandu Wirawan, pemuda Indonesia yang merupakan alumni Universitas Nasional dan kini bekerja sebagai Program Koordinator di Global Peace Festival Indonesia Foundation mewakili Indonesia dalam kegiatan United Nations Alliance of Civilizations (UNAOC) – English First (EF) Summer School di New York.

Mulai 24 hingga 31 Agustus 2013 para peserta melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama antar pemuda lintas negara, budaya, dan agama. Pandu merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia di acara yang diikuti oleh seratus pemuda dengan berbagai inisiatif sosial dari berbagai belahan dunia.

Selama seminggu di Amerika Serikat, peserta mendapat kesempatan untuk belajar tentang global citizenship, negosiasi, social entrepreneurship, dan social media and massive social change. Selain itu, mereka juga mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Kantor Pusat Persatuan Bangsa-Bangsa di New York dan melihat langsung kegiatan komunitas masyarakat yang ada di New York. Pada kegiatan ini, para peserta mendapat banyak kesempatan untuk berdiskusi dan membagikan pengalaman mereka dalam menjalankan kegiatan sosial, sehingga seluruh peserta bisa saling berbagi ilmu satu sama lain.

Pandu menuturkan, selama mengikuti kegiatan UNAOC Summer Camp di New York, isu Interfaith dan Pluralisme tetap menjadi fokus ketertarikan utama yang ia suarakan kepada pemuda seluruh dunia. “Selama di Amerika, saya banyak berbagi cerita tentang permasalahan yang dihadapi Indonesia saat ini. Khususnya tentang isu keberagaman di Indonesia yang belum sepenuhnya bisa dinikmati oleh kaum minoritas, serta berbagai kasus kekerasan mengatasnamakan agama yang masih terjadi di Indonesia. Selain itu, saya juga membagikan cerita mengenai berbagai aktifitas yang saya lakukan seperti Interfaith Youth Forum, Cinta Indonesia dan International Multifaith Youth Assembly sebagai bagian dari upaya saya mencari solusi dari permasalahan tersebut.”

“Saya sangat tertarik dengan isu hak asasi manusia khususnya dalam hal kebebasan beribadah dan beragama, dan salah satu pembahasan dan fokus dalam Summer School ini adalah isu tersebut, itulah alasan mengapa saya tertarik mengikuti acara ini. Selama di Amerika, saya sangat terkesan dengan peserta yang berasal dari Jerman. Program yang dia jalankan adalah I AM YOU, pesan yang dia sebarkan adalah cintai terhadap semua manusia serta perlakukan mereka seperti bagaimana kamu ingin diperlakukan,” tambah Pandu.

Pihak penyelenggara secara resmi menyatakan, terdapat sedikitnya lebih dari 100.000 aplikasi diterima untuk mengikuti UNAOC-EF Summer Camp. Tetapi, hanya 100 orang peserta dari lebih 90 negara yang terpilih untuk berangkat ke New York. Jumlah peserta yang terbatas, terkait dengan fakta bahwa panitia kegiatan UNAOC-EF Summer Camp membayar seluruh transportasi dan akomodasi para peserta kegiatan ini.

Leave A Response »

Switch to our mobile site