Impor Gandum-ganduman ke Sumut Turun 66,16 Persen

Alexander July 12, 2012 0
Impor Gandum-ganduman ke Sumut Turun 66,16 Persen

MEDAN – Impor gandum-ganduman ke Sumatera Utara (Sumut) selama tahun 2012 mencapai US$ 56,473 juta. Nilai ini turun sebesar 66,16% dibandingkan Januari-Mei 2011 yang mencapai US$ 166,867 juta. Volumenya juga mengalami penurunan dari 376.229 ton menjadi 154.423 ton.

Impor gandum-ganduman di Sumut itu masih untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, baik untuk rumah tangga maupun pabrik yang terus meningkat. Namun merosotnya nilai dan volume impor menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat dari beras ke gandum sudah kembali meningkat.

“Gandum-ganduman termasuk dari 10 golongan barang utama yang mengalami penurunan hingga Mei 2012, selain pupuk sebesar 4,16% dari US$ 141,851 juta menjadi US$ 135,944 juta, bahan kimia organik sebesar 4,99% dari US$ 93, 705 juta menjadi US$ 89,29 juta,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Drs Suharno MSc, di kantornya, kemarin.

Dia menyebutkan benda-benda dari besi dan baja sebesar 13,57% dari US$ 46,769 juta menjadi US$ 40,421 juta, buah-buahan turun sebesar 3,87% dari US$ 22,881 juta menjadi US$ 21,995 juta. Selain itu, komoditas garam, belerang dan kapur juga turun 13,4% dari US$ 31,780 juta menjadi US$ 27,521 juta.

“Secara bulanan, impor gandum-ganduman juga turun sebesar 21,8% di mana pada tahun 2011 nilainya US$ 8,464 juta dan Mei 2012 hanya tinggal US$ 6,619 juta,” katanya.

Gandum-ganduman yang masuk ke Sumut masih didominasi produksi asal India sebesar US$ 29,239 juta dan volume 92.105 ton atau turun 19,25% dari US$ 36,208 juta dan volume 122.192 ton. Dari Vietnam senilai US$ 13,787 juta dan volume 28.850 ton.

Menurut Suharno, kedua negara ini memang selalu menjadi produsen utama untuk gandum. Sedangkan negara produsen lain yakni Australia senilai US$ 4,511 juta dan volume 14.606 ton, Thailand senilai US$ 3,881 juta dan volume 5.700 ton dan Pakistan senilai US$ 3,072 juta dan volume 8.000 ton.

Meski terjadi penurunan, namun impor gandum-ganduman mengalami fluktuasi dari negara asal masing-masing. Namun diperkirakan masih akan mengalami penurunan karena konsumsinya kemungkinan sudah kembali beralih ke beras.

Pengamat ekonomi dari Universitas Negeri Medan (Unimed), M Ishak, mengatakan, penurunan ini bisa jadi diakibatkan adanya perubahan konsumsi dari gandum ke beras.

“Penurunanya cukup besar. Ini kemungkinan karena perubahan pola konsumsi. Masyarakat kembali ke beras. Bisa jadi karena harganya belakangan terbilang stabil. Itu mengakibatkan permintaan roti jadi menurun yang otomatis mengurangi pasokan bahan baku,” katanya.

Menurutnya, perubahan pola konsumsi masyarakat dari beras ke gandum hingga sempat membuat impor gandum melonjak, sebenarnya positif. Sebab, kondisi ini membuat tingkat konsumsi beras turun. Ia mengungkapkan, kalau konsumsi makanan berbahan gandum tinggi, itu artinya, produksi beras lokal akan mencukupi untuk kebutuhan Sumut.

“Cukup bagus juga kalau konsumsi roti juga sampai ke Sumut. Karena akan bisa menjaga stok beras sehingga akan cukup dan tak perlu impor lagi,” kataanya. (Muhammad Isya)

Leave A Response »

Switch to our mobile site