MEDAN – Impor gandum-ganduman ke Sumut pada periode Januari-April 2012, melorot 66,77% dengan nilai US$ 49,854 juta, di mana pada tahun lalu mencapai US$ 150,034 juta. Penurunan nilai ini juga diikuti volume yang anjlok dari 323.943 ton menjadi 131.897 ton. Impor gandum-ganduman masih untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di Sumut yang terus meningkat.
Namun, turunnya nilai dan volume impor ini menunjukkan kalau perubahan konsumsi masyarakat dari beras ke gandum sudah mulai berkurang. Hal ini bisa dipengaruhi harga beras yang masih stabil sehingga masyarakat tidak kesulitan untuk membelinya.
“Gandum digunakan sebagai bahan baku untuk barang tertentu yang merupakan pengganti beras, seperti roti dan lain-lain. Meski
permintaan untuk roti dan produk lainnya semakin tinggi, namun pada periode Januari-April mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu. Jadi impor gandum yang melandai ini berarti pola konsumsi beras kembali tinggi,” ungkap pengamat ekonomi dari Universitas HKBP Nommensen (UHN), Dr Parulian Simanjuntak, di kampus tersebut Jalan Prof HM Yamin, Senin (11/6/2012).
Perubahan pola konsumsi masyarakat dari beras ke gandum yang didominasi style (atau gaya hidup khususnya masyarakat yang tinggal di kota besar, sebenarnya berdampak positif. Apalagi, didukung keberadaan hotel berbintang dan tempat-tempat nongkrong yang dikhususkan bagi anak muda, tren konsumsi pangan dari gandum diperkirakan semakin tinggi.
“Kalau konsumsi pangan berbahan gandum tinggi, berarti produksi beras lokal bisa mencukupi dan tidak perlu lagi untuk impor beras. Namun, turunnya impor ini bisa jadi karena pola konsumsi masyarakat terhadap beras kembali tinggi,” jelas Parulian.
Namun dia memprediksi, impor gandum masih akan meningkat. Sebab dengan adanya pengaruh global hingga timbul international taste atau selera yang menyatu di seluruh dunia, maka semua yang masih berumur muda jadi suka makan roti. Kondisi inilah yang menyebabkan makin tingginya konsumsi produk yang dibuat dengan bahan baku gandum.
Selain itu, konsumsi gandum diperkirakan semakin tinggi karena banyak perusahaan makanan yang bereksperimen dengan produk-produk baru sehingga semakin menarik konsumen, hingga kalangan orangtua.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Suharno,mengatakan, gandum-ganduman termasuk dari sekitar 10 golongan barang utama impor yang mengalami penurunan pada Januari-April 2012.
Kemudian komoditas bahan kimia organik sebesar 7,14% dari US$ 86,098 juta menjadi US$ 79,951 juta, ampas/sisa industri makanan turun 6,9% dari US$ 79,48 juta menjadi US$ 73,997 juta, gandum-ganduman turun 66,77% dari US$ 150 juta menjadi US$ 49,854 juta.
“Secara bulanan, impor gandum-ganduman ini mengalami peningkatan dimana pada April 2012 nilainya US$ 8,464 juta dengan volume 26.498 ton. Sementara pada April 2011, nilainya tercatat sebesar US$ 6,755 juta dengan volume 14.675 ton,” ungkapnya.
Untuk negara impor asal gandum yang masuk ke Sumut, sebut Suharno, didominasi dari India senilai impor US$ 24,193 juta dan volume 74.554 ton, diikuti Vietnam dengan volume 28.600 dan nilai US$ 13,692 juta. ”India selalu menjadi produsen terbesar untuk komoditas ini. Itu karena negara tersebut memang termasuk produsen terbesar penghasil gandum-ganduman di dunia,” ujarnya.
Dijelaskannya, rata-rata nilai dan volume impor gandum-ganduman ke Sumut mengalami fluktuasi setiap bulan dari masing-masing negara asal. Namun, berdasarkan data dari tahun 2011 lalu, impor komoditi ini lebih sering mengalami kenaikan diakibatkan tingginya kebutuhan gandum-ganduman di Sumut. (Muhammad Isya)









