Impor Pupuk ke Sumut Melonjak 189,92 Persen
- 29 June, 2012 -
- Medan Today -
- Tags : badan pusat statistik sumut, BPS, impor china, impor pupuk, Suharno
- 0 Comments
MEDAN – Impor pupuk yang masuk ke Sumut didominasi China senilai US$ 27,838 juta dengan volume 62.621 ton atau naik 189,92% dibandingkan tahun lalu yang mencapai US$ 9,602 juta dan volume 26.288 ton.
“Pupuk termasuk dari 10 golongan barang utama impor yang mengalami peningkatan pada Januari-April 2012. Selain pupuk, impor gandum-ganduman juga naik 25,3 persen, karet dan barang dari karet 15,14 persen, plastik dan barang dari plastik naik 6,81persen, dan bahan bakar mineral 0,45 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Drs Suharno MSc, di kantornya, Kamis (28/6/2012).
Setelah China, impor pupuk diikuti Jerman US$ 20,263 juta dan volume 38.561 ton atau naik 146,42% dari tahun lalu di mana nilainya hanya US$ 8,223 juta dan volume 20.644 ton, Kanada senilai US$ 12,5 juta dan volume 25.000 ton, Norwegia US$ 9,848 juta dan volume 16.726 ton, dan Malaysia senilai US$ 8,902 juta dan volume 16.308 ton, serta negara lainnya senilai US$ 26,661 juta dengan volume 107.311 ton.
Suharno mengatakan, sepanjang Januari-April 2012, Sumut mengimpor pupuk senilai US$ 106,012 juta atau naik 3,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 102,601 juta. Importasi ini untuk memenuhi kebutuhan pupuk terutama untuk sektor pertanian dan perkebunan di Sumut.
Sementara volume importasi komoditas ini tercatat 266.527 ton pada Januari-April 2012. Jumlah ini turun sekira 2,78% dari tahun lalu yang tercatat sebanyak 274.139 ton.
Dari total nilai impor Sumut sepanjang 2012 atas dasar CIF (cost, insurance & freight) yang mencapai US$ 1,526 miliar, pupuk memberikan kontribusi sebesar 6,94%.
Menurut dia, memang rata-rata nilai impor pupuk cukup beragam. Ada volumenya yang cukup kecil, namun nilainya besar. Hal ini karena impor pupuk yang berbeda. Jadi ada harganya yang lebih mahal.
Pengamat ekonomi dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Muhammad Ishak, mengatakan, angka impor pupuk yang semakin tinggi kian mengarah pada dominasi barang impor di pasar Sumut, terutama Kota Medan.
“Sejumlah pengamat ekonomi pernah memperkirakan, pasar kita akan semakin tergerus jika kualitas produk dalam negeri tidak ditingkatkan. Bahkan kini, untuk pupuk saja kita harus impor. Kemungkinan termarjinalisasi oleh produk impor memang cukup besar dan sudah mendekati kenyataan,” ungkapnya. (Muhammad Isya)


