Rumah Barbie Siagian Dibeli Pembeli Asing

Alexander October 12, 2011 1
Rumah Barbie Siagian Dibeli Pembeli Asing

DI MANA ada kemauan, di situ ada jalan. Kalimat bijak ini cocok ditujukan kepada Monang Siagian (50 tahun). Meski menyandang cacat tubuh – kaki puntung – mantan atlet cacat tubuh PON Sumut cabang tenis lapangan ini ternyata mampu menghidupi keluarga dan sekaligus membuka lowongan pekerjaan.

Sehari-hari, di workshopnya di Jalan SMA Negeri 2 tak jauh dari kompleks perumahan Malibu Indah, Polonia Medan, mantan petenis yang selalu menjadi juara pertama ini memproduksi dan menjual rumah-rumahan boneka Barbie. Tiga bulan belakangan, usaha Monang sedang booming.

Pembeli datang dari luar Kota Medan, seperti Aceh, Riau, Pulau Jawa bahkan hingga luar negeri (China). Monang pun bisa tersenyum. Kerja kerasnya tak sia-sia.

Satu unit rumah Barbie biasa ditawarkan Monang seharga Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu. Sedangkan untuk model bertingkat, dijual sampai Rp 750 ribu. “Harga masih bisa nego, tergantung ukuran dan model yang dipesan,” kata Monang.

Di sela kesibukannya, saat saya kunjungi beberapa waktu lalu, pria kreatif ini menuturkan, keahlian membuat kerajinan rumah-rumahan Barbie ini didapatnya saat menjadi atlet Indonesia dan ikut bertanding pada Olimpiade Cacat Se-dunia di Inggris. Tak hanya bertanding olahraga, para atlet ternyata juga dibekali keahlian khusus untuk menafkahi hidup jika sudah tak lagi bertanding.

Sepulang dari Inggris, bersama Yayasan Orang Cacat di Jakarta akhir tahun 90-an (1999), bersama rekan-rekannya, Monang dibimbing menjadi perajin pembuat rumah-rumahan boneka Barbie.

Ternyata Monang tak butuh waktu lama agar ahli mengerjakannya. Tak lebih dari setahun, ia sudah ahli membuat rumah-rumahan Barbie ini. “Waktu di Inggris saya sudah mendapat pengalaman membuat rumah Barbie ini. Sepulang dari sana, saya bertekad untuk belajar, kebetulan di Jakarta diajarin oleh Yayasan Orang Cacat,” katanya.

Setelah merasa ahli, Monang memberanikan diri untuk memulai bisnis Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memproduksi rumah-rumahan Barbie ini. Gayung bersambut, ia mendapat bantuan modal dari Gubernur Sumatera Utara (Sumut) ketika itu, alm T Rizal Nurdin sekitar Rp 40 juta. Biar komplit, Monang membuka tabungannya saat menjadi atlet untuk menambah modal.

SATU RUMAH-RUMAHAN  Barbie bisa diselesaikan Monang dalam waktu 2-3 hari, tergantung modelnya. Proses pengerjaannya lumayan menjelimet, mulai dari ngemal gambar konstruksi nya, menggergaji triplek/kayu, pemasangan konstruksinya, mengelem memberi perekat. Proses itu ditutup dengan pengecatan dan variasi untuk memperindah rumah boneka ini.

Ada perbedaan antara rumah-rumahan Barbie yang dilihatnya di Inggris dulu dengan yang diproduksinya sekarang. Di negeri asalnya, rumah-rumahan ini dibuat dari bahan baku batang bambu. “Saya bisa membuatnya, tapi nanti harganya bisa mahal, karena waktu pengerjaanya lumayan lama. Jadi harus disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat kita,” kata Monang,

Menurut ayah dua anak ini, kerajinan tangannya ini memang tidak menentu lakunya. Tapi, ia bersyukur, dalam tahun 2011 ini hampir setiap hari ada saja orang yang memesan dan membeli. Untuk meningkatkan produksi, ia mempekerjakan enam tenaga buruh lepas dengan bayaran upah per borongan.

“Kebetulan tiga bulan belakang ini banyak yang memesan. Banyak dari luar kota Medan, seperti Aceh, Riau, Pulau Jawa hingga luar negeri (China). Malah ada orang China yang memesan sampai 10 unit,” kata Monang.

Nah, kalau Monang Siagian yang cacat tubuh saja bisa kreatif menghasilkan sesuatu sehingga bisa menghidupi keluarga dan membuka lowongan pekerjaan, masa kita yang dianugerahi Tuhan tubuh lengkap tidak bisa? (Laporan: Muhammad Isya)

One Comment »

  1. mukramin March 5, 2013 at 8:26 am - Reply

    good……………….

Leave A Response »

Switch to our mobile site