Sensasi Rasa di Rumah Makan Nasrul Sibolga

RN December 14, 2011 0
Sensasi Rasa di Rumah Makan Nasrul Sibolga

ABDUL LATIF SINAGA adalah seorang nelayan di Sibolga yang selama 30 tahun lebih menekuni pekerjaan yang penuh risiko itu.

Ketika Nasrul, anak keduanya, lahir, mendadak Abdul Latif takut melaut. “Bagaimana kalau aku mati? Bagaimana nasib anakku kelak?” begitulah kata hatinya yang galau.

Ia memutuskan berhenti melaut, dan banting setir membuka warung nasi di kampungnya bersama istrinya yang pintar memasak. Singkat cerita, warung itu laris karena masakannya yang lezat.

Namun, keuangan keluarganya tak kunjung membaik. Gara-garanya, pelanggannya kebanyakan adalah teman-teman sendiri yang suka berutang. Abdul Latif tidak tega menagih utang teman-temannya.

Tahun 1985, mereka pun hijrah ke Medan untuk membuka warung nasi dengan masakan khas pesisir Tapsel (Tapanuli Selatan). “Di sini, semua orang bayar kontan,” kata Abdul Latif menyeringai.

Di Medan, kedai nasi Abdul Latif berjaya. Dari satu kedai, kini ia sudah buka cabang yang lebih besar di Jalan Sisingamangara persis di depan Jalan Utama Medan.

Pelanggannya pun tidak lagi para nelayan maupun orang kantoran, melainkan juga para pejabat dan pesohor. Akbar Tandjung, Faisal Tandjung, Aulia Pohan, dan Ruhut Sitompul hanyalah beberapa saja dari nama-nama pesohor yang telah “tergigit” legitnya masakan Nasrul Sibolga.

Masakan gagrak Tapsel memang merupakan “adukan” dari berbagai aliran kuliner utama Indonesia. Bila dilihat sekilas, tampak sekali banyaknya pengaruh masakan Minang dalam kuliner Tapsel, seperti: gulai, asam padeh, balado, palai, dan lain-lain. Masakan Batak jenis halal pun diserap, antara lain arsik, dan daun ubi tumbuk. Tentu saja, masakan Melayu, seperti ikan salai pun menjadi bagian penting dari kuliner Tapsel.

Nasrul Sibolga juga memakai cara saji mirip di rumah-rumah makan Padang. Begitu tamu duduk, beberapa piring kecil berisi berbagai jenis masakan pun dihidangkan di meja. Para tamu memilih sendiri lauk yang diingini, dan kemudian membayar hanya makanan yang dikonsumsi. Bila ada jenis masakan tertentu yang diingini dan belum tersaji di meja, tamu tinggal berteriak memanggil pramusaji.

Kebanyakan tamu Nasrul Sibolga tidak melewatkan gulai kepala ikan gabu (kapuk, disebut manyung atau sembilang di Jawa) yang sungguh berlemak. Kepala ikan berukuran besar ini mengandung kulit yang tebal dan kenyil-kenyil.

Banyak juga tamu yang menyukai ikan geleng – satu jenis sajian yang sudah kian langka di Tapsel. Maklum, ikan geleng ini sangat rumit penyiapannya. Ini adalah ikan kembung yang dikeluarkan daging dan tulangnya, lalu diisi kembali dengan daging ikan yang sudah dilembutkan dan dicampur bumbu, kemudian digoreng. Di Pulau Bangka, sajian ini disebut kembung betelok – mirip dengan sate bandeng di Banten, atau otak-otak bandeng di Surabaya. Konon, di masa lalu, ikan geleng hanya disajikan untuk para raja.

Favorit saya di Nasrul Sibolga adalah arsik ikan mas. Arsik adalah masakan khas Sumatra Utara, terbuat dari ikan mas, dengan bumbu-bumbu yang sungguh istimewa. Arsik Batak, arsik karo, dan Arsik Tapsel punya karakteristik sendiri-sendiri. Arsik Bataknya berkuah encer, hingga kuahnya dapat dihirup. Arsik Karo kuahnya sangat pekat. Sedangkan arsik Tapsel berada di antara keduanya – tidak terlalu encer, juga tidak terlalu pekat. Warna kuahnya pun lebih merah bila dibanding arsik Batak yang encer kekuningan.

Arsik dimasak dengan bumbu-bumbu: kunyit, andaliman (szechuan pepper), kincung (pucuk bunga kecombrang), asam tikala (asam dari buah kecombrang), asam gelugur, dan banyak lagi. Andaliman membuat lidah bergetar karena pedasnya. Sedangkan dua jenis asam yang dipakai membuat kuahnya terasa segar.

Yang tidak akan pernah saya lewatkan di Nasrul Sibolga adalah sambal bawang batak. Bawang batak adalah bawang merah jenis khusus yang dipetik muda bersama daunnya. Bawang batak menghadirkan aroma harum dalam masakan. Sambal yang pedasnya nonjok ini sungguh dahsyat – dicampur petai dan bawang Batak. Mak nyuosss!

Coba juga masakan ikan salainya. Ikan salai adalah ikan yang dikeringkan dengan cara diasap. Yang enak disalai antara lain adalah ikan lele. Dimasak gulai dengan terong, dijamin Anda akan menghabiskan lebih banyak nasi.

Kalau saja Anda tidak terlalu kalap(aran!), di rumah makan murah-meriah ini cukup dianggarkan Rp 50 ribu per kepala untuk makan kenyang dan puas. (bw/dtc)

Leave A Response »

Switch to our mobile site