MEDAN – Stok gas yang terus menyusut ditambah kenaikan harga salah satu bahan bakar untuk produksi ini, membuat kalangan pengusaha terus mengalami kerugian. Sebab, kenaikan ini juga berimbas pada tingginya harga jual produk yang dihasilkan,sedangkan daya beli masyarakat semakin menurun.
“Kenaikan harga gas akan mengakibatkan tingginya harga produk hingga 30 persen. Tidak hanya pengusaha yang merugi karena biaya produksi bertambah, tetapi juga masyarakat yang daya belinya menurun. Kita sudah menolak kenaikan harga gas ini. Kalau naik terus sama saja kita merugi,” ungkap Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, Parlindungan Purba kepada MedanMagazine,Senin (11/6/2012).
Parlindungan mengatakan, pihaknya berkoordinasi dengan Asosiasi Pengusaha Pengguna Gas (Apigas) Sumut dan sudah melayangkan surat penolakan terkait kenaikan harga tersebut. Penolakan ini bukan hanya untuk mencegah kerugian pengusaha, tetapi juga untuk pertumbuhan ekonomi.
Bahkan meskipun permintaan penolakan kenaikan harga tidak digubris Perusahaan Gas Negara (PGN) dan pemerintah, maka kata Parlin , akan tetap mempertahankan pendapat terhadap penolakan itu. “Penolakan kenaikan ini akan kita terus pertahankan. Kita juga tidak mau kalah. Bayangkan, penyaluran terus berkurang, harga terus naik,” tandasnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Pengguna Gas (Apigas) Sumut, Johan Brien, mengakui, kenaikan ini membuat pengusaha akan kalang kabut. Karena harus kalah bersaing dengan kompetitor dari luar negeri. “Kita kalang kabut kalau begini dan ini akan membuat kita kalah bersaing,” ujarnya.
Dijelaskan Johan, pada umumnya pengusaha untuk memproduksi akan membuat kontrak terlebih dahulu dengan buyer dalam masa kontrak yang cukup lama.
“Kalau naik seperti ini, akan membuat kita kehilangan kontrak. Dan akhirnya buyer akan memilih pengusaha dari negara lain. Saat ini saja, untuk gas kita sudah ketinggalan dari Malaysia sebagai kompetitor,” tukasnya.
Bukan hanya masalah kenaikan harga yang dihadapi para pengusaha, namun persediaan gas yang terus berkurang dan sudah terjadi sejak tahun 2000 yang lalu. Diungkapnya lagi, untuk kuota pihaknyaterus mengalami kekurangan. Dari kuota yang kemarin 47% sekarang berkurang mencapai 27%.
Pengurangan kuota gas ini bukan hanya merugikan pengusaha, tetapi juga para masyarakat luas. Dicontohkannya, PT Kedaung yang awalnya mengoperasikan 4 line gas untuk produksinya, saat ini hanya mampu mengoperasikan 2 line saja. “Karena bahan bakar berkurang, produksi juga berkurang dan terpaksa juga mem PHK karyawannya sebanyak 300 hingga 400 orang,” pungkasnya. (Muhammad Isya)









